Ilmu Rekayasa Industri

Ilmu rekayasa industri adalah ilmu yang digunakan untuk memberi manfaat lebih, nilai tambah pada suatu barang dan jasa.
Pengertian Teknik Industri berdasarkan IIE (Institute of Industrial and System Engineering) adalah sebagai berikut :
“ Industrial Engineering is concerned with the design, improvement, and installation of integrated system of people, materials, information, equipment, and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design to specify, predict, and evaluate the result to be obtained from such system.”


Pengukuran Kinerja Supply Chain dengan Metode SCOR

Supply Chain Management adalah metode atau cara untuk merencanakan, mengendalikan, mengawasi proses sinergi dari entity-entity sebuah organisasi.

Untuk memastikan proses Supply Chain berjalan dengan baik, diperlukan indikator-indikator pengukuran kinerja yang berfungsi sebagai kontrol seluruh aktifitas Supply Chain. Salah satu metode Pengukuran Kinerja Supply Chain yang dapat digunakan salahsatunya adalah dengan menggunakan metode SCOR (Supply Chain Operation References)

METODE PENELITIAN
Untuk menyelesaikan masalah yang di bahas dalam penelitian ini, diperlukan suatu pendekatan mengenai tahapan-tahapan implementasi sistematis penenelitian yang akan dilakukan. Pendekatan tersebut adalah berupa metodologi penelitian. Berikut adalah uraian lengkap mengenai tahap-tahap metodologi penelitian yang digunakan. Penelitian ini terdiri dari 4 tahapan, yang diantaranya adalah:
1. Tahap Identifikasi Masalah
2. Tahap Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja
3. Tahap Pengukuran Kinerja
4. Tahap Analisa Pembahasan dan Kesimpulan

1. Tahap Identifikasi Masalah
Selama peninjauan perusahaan yang dilakukan dilakukan penelusuran masalah dan pengidentifikasian masalah. Masalah yang akan dianalisa dan diidentifikasi adalah masalah pengendalian pengukuran kinerja Supply Chain Pada PT. ABC.
2. Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja
Perancangan system pengukuran kinerja Supply Chain PT. ABC meliputi Pengumpulan data yang terkait dengan pengukuran kinerja Supply Chain,identifikasi objektif beserta KPI nya, penyusunan rancangan sistem pengukuran kinerja, dan validasi rancangan pengukuran kinerja dengan pihak manajemen perusahaan.
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara, pembagian kuisioner dan beberapa data-data yang telah terdokumentasi di PT. ABC.
Perancangan Sistem Pengukuran Kinerja
Perancangan sistem pengukuran kinerja adalah penyusunan KPI pengukuran kinerja perusahaan berdasarkan model pengukuran kinerja yang telah ditentukan yaitu dengan menggunakan Supply Chain Operation References (SCOR). Penjabaran KPI berdasarkan pada dimensi Plan, Source, Make, Delivery, Return. Setelah KPI berdasakan model SCOR tersusun, kemudian KPI diklasifikasikan kembali kedalam dimensi Reability, Responsiveness, Flexibility, Cost, dan Asset.
2.4 Validasi Rancangan Sistem Pengukuran Kinerja
Setelah rancangan pengukuran kinerja Supply Chain telah dilakukan, kemudian dilakukan validasi system pengukuran kinerja yang dimiliki oleh perusahaan. Bila rancangan awal yang disusun sesuai dengan sistem pengukuran kinerja perusahaan, proses pengukuran kinerja dapat dilakukan. Namun bila terjadi perbedaan maka perlu dilakukan perbaikan rancangan system pengukuran kinerja. Hasil dari perancangan sistem pengukuran kinerja Supply Chain dengan model SCOR sudah berupa susunan hierarki.
3. Pengukuran Kinerja Supply Chain
Tahap ini membahas seluruh proses pengumpulan data yang akan diolah, langkah-langkah pengolahan data, hingga didapatkan hasil yang diinginkan. Pada tahapan ini mencakup pembobotan dengan AHP, Skoring system dengan menggunakan OMAX, dan Penentuan kinerja perusahaan dengan menggunakan Trafigh Light Sistem.
3.1 Pembobotan Dengan AHP
Rancangan kinerja Supply Chain disusun bertingkat dan kemudian diberi bobot dengan metode AHP. Data yang akan diolah dengan metode AHP diperoleh dengan memberikan kuisioner pada pihak manajemen yang berkompeten pada indikator-indikator pengukuran kinerja yang akan diberi bobot.
3.2 penentuan nilai kinerja dengan Menggunakan OMAX dan Trafigh Light Sistem
Setelah masing-masing indikator memperoleh bobot kemudian bobot dimasukkan ke dalam kerangka OMAX untuk mendapatkan nilai berupa skor capaian kinerja. Nilai capaian ini kemudian dikategorikan sesuai dengan kriteria nilai yang telah ditetapkan manajemen dalam Trafigh Light Sistem. Warna merah menunjukkan capaian kinerja perlu dilakukan perbaikan, warna kuning menandakan keadaan aman namun perlu waspada, sedangkan warna hijau menunjukan kinerja yang berjalan dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Captcha Garb (1.5)