↑ Return to Al-Islam

Al-Mann, racun pemusnah pahala sedekah!!!

Ramadhan kemarin, dan juga syawal, adalah moment untuk berderma. Keutamaan Ramadhan memancing iman untuk melakukan segala hal demi mendapatkan pahala yang berlimpah, termasuk dengan sedekah. Bulan Syawal meski fadhilahnya tak seisitimewa Ramadhan, juga sering dijadikan moment untuk berbagi. Tak jarang, bulan syawal dijadikan bulan tutup buku dan waktu mengeluaran zakat mal. Andai dibuat grafik, perolehan dana sosial pada titik Ramadhan-Syawal pasti jauh lebih tinggi dari bulan lainnya. Subhanallah, semoga apa yang telah didermakan, dicatat sebagai kebaikan,diberi pahala berlipat dan bermanfaat saat amal ditimbang di akhirat.Amin.
Nah, yang harus dilakukan sekarang adalah menjaga agar pahalaibadah maliyah itu tidak hilang. Hilang? Apa maksudnya? Bukankah bila sudah ikhlas hanya mencari ridha Allah, berarti sudah dicatat sebagai kebaikan dan pasti diberi pahala?
Benar sekali. Keikhlasan adalah jaminan bagi setiap amal kebaikan yang dilaksanakan sesuai sunah, untuk diganjar pahala.Dan sebaliknya, nihilnya ikhlas yang berarti wujudnya riya’ (hasrat mendapat pujian dan penghormatan)adalah pengganjal pena pencatat pahala. Namun, untuk sedekah, Allah telah memperingatkan bahwa pahala sedekah bisa berkurang atau bahkan hilang alias batal diberikan jika pemberi sedekah melakukan al mann. Apa itu al Mannu? Al mannu adalah menyakiti orang yang diberi sedekah dengan menngungkit-ungkit sedekah yang sudah ia terima.
Allah berfirman,
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:262)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu denga menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir itu. (QS. 2:264) Dengan al mannu, pahala sedekah seperti tanah di atas batu licin yang tersiram hujan deras, musnah tiada sisa. Hilangnya pahala pasti akan membuat kita kecewa. Namun rupanya, dampak al mannu tidak hanya itu. Rasulullah bersabda,
ثَلَاثَةٌلَايُكَلِّمُهُمْاللَّهُعَزَّوَجَلَّيَوْمَالْقِيَامَةِوَلَايَنْظُرُإِلَيْهِمْوَلَايُزَكِّيهِمْوَلَهُمْعَذَابٌأَلِيمٌالْمَنَّانُبِمَاأَعْطَىوَالْمُسْبِلُإِزَارَهُوَالْمُنَفِّقُسِلْعَتَهُبِالْحَلِفِالْكَاذِبِ
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak diperhatikan dan tidak disucikan dan bagi mereka siksa yang pedih: si tukang ungkit atas segala yang diberikan, yang celananya menutupi matakaki dan yang menjual dagangan dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim).
Diacuhkan di akhirat,mengerikan sekali. Padahal saat itu, kepedulian atau belas kasih dari siapapun selain Allah tak akan berguna. ‘afaanallahu wa iyakum. Dan ini adalah penyakit yang rawan menimpa para mutashadiq, donatur sedekah, demikian Abu Hayan menjelaskan dalam al Bahrul Muhith II/318.
Imam al Ghazali dalam Ihya’ Ululmuddin (I/226) dengan gamblang menjelaskan bahwa implementasi al mannu adalah membicarakan apa yang sudah disedekahkan, memamerkan, menuntut rasa terima kasih, doa, penghormatan, rasa segan, mengharap agar hak-haknya dikedepankan, dan didahulukan dalam berbagai acara serta agar yang diberi menurutinya dalam berbagai hal.Sedang al Adzaadalah menghina si penerima sedekah secara eksplisit dengan berbagai cara.
Ancaman Laten.
Dengan demikian, al mann adalah bahaya laten yang mengancam pahala sedekah. Setelah mendapat pemberian, kebanyakan orang akan menaruh hormat dan merasa berhutang budi. Tapi itu tidak bisa selamanya. Namanya hidup, suatu saat akan ada gesekan atau bahkan pertikaian,sedikit atau banyak, termasuk antara orang yang pernah memberi dengan penerima. Apalagi yang namanya kebaikan lebih mudah dilupakan, sementara kesalahan, meski hanya sedikit, akan terpatri di ingatan. Nah, saat terjadi gesekan itulah, setan akan menghasung agar si pemberi mengeluarkan kartu trufnya, mengungkit apa yang pernah ia berikan, baik sedekah atau bantuan lain. Hal itu berfungsi untuk memberi tekanan dengan memposisikan lawannya sebagai pihak yang tidak tahu berterima kasih.
Kita harus waspada karena kondisi seperti itu dapat terjadi kapan saja. Barangkali kita merasa puas karena berada di atas angin. Tapi jika kepuasan itu harus ditukar dengan pahala yang sedianya akan kita dapatkan di akhirat, tentu pertukaran itu tidaklah seimbang.
Ternyata Ikhlas Juga harus dijaga
Ada tiga racun yang diramu setan untuk merusak amal kebaikan. Sebelum beramal, racun riya’lah yang digunakan. Racun riya’akan membuat orang kehilangan orientasi tentang kepada siapa seharusnya amal ia niatkan. Saat beramal, ada racun ghaflah yang disisipkan. Ghaflah adalah lalai yang bisa berupa hilangnya kekhusyu’an atau ketidakseriusan. Dan setelah amal dilakukan, masih ada racun perusak amal yang efeknya tak kalah ampuh dari dua yang pertama. Ada sum’ah dan al Mann. Sum’ah, menceritakan amal yang sudah dilakukan agar mendapat sanjungan. Dan untuk sedekah ada al Mann dan al Adza, mengungkit pemberian dan menyakiti hati yang diberi. Cukup dengan satu saja dari ketiga racun ini, pahala bisa musnah. Susah payah beramal dan beribadah, tapi pahala yang diharapkan telah musnah.
Untuk mengantisipasi racun al mann, ada baiknya kita merenungkan hadits Nabi berikut:
إِنَالصَّدَقَةَتَقَعُ فيِ يَدِاللهِعَزَّوَجَلَّقَبْلَأَنْتَقَعَفِييَدِالسَّائِلَ
“Sesungguhnya sedekah itu berada di tangan Allah sebelum sampai ke tangan orang yang meminta (menerima).” (HR. ath Thabrani, ref: Majma’ az Zawaid II/11).
Sedekah yang kita berikan hakikatnya telah kita berikan kepada Allah dan yang menerima mengambilnya dari Allah. Disamping itu, pada dasarnya rejeki itu akan sampai pada pemiliknya melalui siapapun. Pemilikinya adalah yang menggunakan dan memanfaatkannya. Jadi pada dasarnya si pemberi sedekah hanyalah perantara.
Orang yang mengungkit-ungkit sedekah seakan-akan merasa bahwa rejeki yang jatuh ke tangan si fulan itu bermula dari dia. Dialah yang memberikan dan menakdirkan harta itu sampai pada si penerima. Imam al Ghazali menyebutnya sebagai suatu ketidakmengertian(al jahlu) akan hakikat (Ihya’ I/226). Hakikat bahwasanya rejeki sudah ditetapkan, bahkan apa yang akan terjadi di seluruh dunia ini berjalan atas kehendak-Nya. Sedang Imam al Qurthubi menyebutnya sebagai bagian dari kesombongan dan ujub.
Jadi, sebenarnya tidak alasan untuk mengungkit-ungkit pemberian. Sebab, hakikatnya yang memberi adalah Allah. Tapi yang perlu dicatat, jika kita berada di posisi sebagai orang yang diberi, bukan persepsi ini yang kita kedepankan, tapi rasa terima kasih dan syukur. Wallahua’lam

sumber: www.arrisalah.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Captcha Garb (1.5)